JAMBI, GENTALANEWS.COM – Tadi malam tepat jam 24.00 WIB kita dihadapkan pada akhir tahun 2025 dan pergantian tahun ke 2026. Banyak hal terjadi baik capaian kesuksesan, kebahagiaan hingga berbagai ujian, bencana dan disuguhkan berbagai hal menyayat hati nan pilu. Satu hal yang penting, disadari ataupun tidak, disukai ataupun tidak, waktu akan terus berjalan. Waktu dalam Al-Qur’an setidaknya terpretasikan dalam beberapa kata seperti kata zamân, waqt, ajal, al-ashr, ad-dahr dan kata yang semakna lainnya. Diantara ayat yang menunjukkan tentang urgensi memaknai waktu adalah kata al-’ashr. Allah berfirman: Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran. (Qs. Al-‘Asr/103:1-3)
Imam Syafi’i mengomentari surat al-’ashr dengan menyatakan bahwa seandainya tidak ada surat lain yang diturunkan selain surat ini, niscaya surat ini sudah mencukupi untuk menjadi pedoman hidup manusia, menunjukkan betapa krusialnya pemahaman terhadap waktu. Imam Al-Ghazali yang mengibaratkan waktu sebagai esensi kehidupan, di mana setiap detiknya harus dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai kesuksesan dunia dan akhirat. Pergantian tahun menunjukkan pergantian waktu dari tahun ke tahun dari masa ke masa. Sungguh beruntunglah mereka yang memanfaatkan waktu yang dilaluinya dengan sebaik-baiknya. sebaliknya merugilah mereka yang mensia-siakan waktu yang dianugerahkan kepadanya.
kita harus berjanji pada diri sendiri memperbaiki diri. Konsistensi wajib diterapkan,dalam upaya menjadikan hari ini lebih baik dari hari kmren,termasuk tahun ini harus lebih baik dari tahun sebelumnya, terutama di dalam beribadah kepada Allah SWT.”
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Marilah kitaevaluasi diri kita, berbagai kinerja, capaian, target dan apa yang telah kita citakan ditahun 2025 lalu. apakah sudah tercapai ? apakah masih ada yang tertinggal ? kendala apa yang menjadikan belum tercapai ? dan berbagai pertanyaan yang akan menjadikan kita lebih mampu menghargai kesempatan dan waktu yang Allah SWT berikan kepada kita.
Selanjutnya, Komitmen untuk lebih baik. Evaluasi yang baik adalah ketika mampu menjadi pijakan untuk lebih baik dari sebelumnya. Dalam menghadapi pergantian tahun, kita harus memiliki niat yang baik dan tujuan yang jelas. Kita harus menetapkan tujuan untuk meningkatkan keimanan, meningkatkan amal saleh, dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dia tuju” (HR. Bukhari). Maka dari itu, sebuah komitmen harus dibuat untuk meningkatkan kualitas diri dan ibadah di tahun 2026 ini, sejalan dengan prinsip muhasabah atau intropeksi diri yang dianjurkan dalam Islam. Ini melibatkan penilaian terhadap perilaku di masa lalu dan penetapan resolusi konkret untuk peningkatan moral dan spiritual di masa depan, sejalan dengan prinsip muhasabah yang ditekankan dalam ajaran Islam. Melalui proses ini, individu diharapkan dapat mengidentifikasi area-area yang memerlukan perbaikan dan merumuskan strategi yang efektif untuk mencapainya, termasuk upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Seterusnya, Mulai dari yang terkecil/ termudah. Kesuksesan besar selalu dimulai dari langkah pertama. Kemajuan yang membanggakan selalu dimulai dari langkah kecil nyata. Menjadi hal krusial yang tidak bisa diabaikan dalam ajaran.
Islam adalah mulailah segala sesusatu dengan niat yang baik. Niat yang tulus dan bersih harus mendasari setiap komitmen, semata-mata mengharap ridha Allah SWT, dan kemudian ditindaklanjuti dengan mujahadah, yaitu usaha sungguh-sungguh untuk mewujudkan niat tersebut dalam bentuk amal yang konsisten. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya niat dan keikhlasan (ikhlas) dalam setiap tindakan, yang merupakan landasan bagi evaluasi pendidikan dan upaya perbaikan diri. Niat yang benar menjadi fondasi utama untuk perencanaan yang matang dan terstruktur. Menata niat pada tahap awal dan menetapkan tujuan yang jelas, berlandaskan pada keridhaan Allah, menjadi esensial untuk memperoleh keberkahan dalam setiap usaha.










